About Me

My photo
Assalamu 'alaikum... Kreator blog ini merupakan guru SMP Negeri 60 Surabaya yang memiliki hobi menulis karya sastra dan berbagi ilmu pada sesama rekan pendidik. "Ilmu adalah yang memberikan manfaat, bukan yang sekadar hanya dihafal". – Imam Syafi’i...jadi ikhwan N akhwat...klo punya ilmu jangan disimpan sendiri ya...jadikan ilmu kita manfaat dengan berbagi kepada yang lain..yuk dishare:-)
Powered by Blogger.
RSS

Cerita Pendek untuk Anak Tingkat SD


Cerita Pendek untuk Anak Tingkat SD - Sastra atau kesusastraan merupakan hasil karya manusia yang menggunakan bahasa sebagai alat atau media pencurahan, baik berbentuk lisan maupun tertulis, yang mampu menyentuh jiwa pembaca atau pendengarnya karena bernilai estetis atau indah. Cerpen merupakan cerita pendek yang peristiwanya terjadi pada suatu waktu dan para tokohnya tidak mengalami perubahan waktu. Berikut ini saya berikan contoh cerpen anak yang menarik dan banyak pesan moral di dalamnya. Silahkan menyimak!


Mendadak Contekan
Oleh: Dyna Parastiningsih, S.S.

Wajah Bobi tampak memerah menahan malu ketika kertas ulangannya dirampas oleh Pak Tikno. Semua itu terjadi bukan tanpa alasan. Pak Tikno memergoki Bobi dan Joni sedang contekan di kelas. Berbeda dengan Bobi, senyum Joni malah makin lebar ketika Pak Tikno menjewer kedua telinganya. Maklumlah, Joni memang sudah terlalu sering mencontek di kelas itu. Ia tak pernah jera mengulangi perbuatannya meski bermacam-macam hukuman kerap dijalaninya.
“Huh...dasar tukang nyontek, nggak kapok-kapoknya dihukum. Udah kelas enam SD masih aja contekan.” ujar Aan, ketua kelas yang super disiplin itu.
“Iya, nggak tau malu, rasain kena hukuman lagi.” balas Tono, teman sebangku Aan.
“Tapi Ton.., tumben banget si Bobi mencontek, padahal ia kan jawaranya kelas ini? Aku saja tak pernah bisa menyamai nilai-nilainya. Padahal aku sudah susah payah belajar. Tiap minggu aku juga ikut bimbel. Tapi hasilnya gak ada. Sebal banget aku jadinya.” keluh Aan.
Iya juga sih...memang aneh banget si Bobi. Pintar kok nyontek, nggak malu apa?! ujar Tono mendukung pendapat Aan.
Bel sekolah pun berbunyi. Jam istirahat dimulai. Bobi harus menghadap Pak Tikno di ruang guru untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya tadi. Sesampainya di ruang guru, ia duduk menghadap Pak Tikno. Wajahnya tertunduk. Matanya mulai berkaca-kaca. Tangannya gemetar dan menjadi dingin.
Pak Tikno mulai memeriksa kertas ulangan milik Bobi. Beliau menarik napas panjang. Sesekali menggeleng-gelengkan kepala. “Bobi...Bobi...contekan kok jawabannya banyak yang ngawur gini! Padahal ini kan soal pilihan ganda semua. Memangnya kamu tidak belajar kemarin? tanya Pak Tikno tegas.
“A...aanu..maaf pak, maafkan saya. Saya sudah belajar, tapi cuma sebentar. Tadi malam saya ketiduran.“ jawab Bobi.
“Kok bisa, Bob? Hmm..saya jadi heran, lagi pula tidak biasanya kamu melakukan kecurangan ketika ulangan. Ataukah kamu lupa kalau hari ini ada ulangan sehingga tidak sempat belajar?” ujar Pak Tikno penasaran.
“Ti..tidak..pak. Saya selalu ingat jadwal pelajaran, apalagi jadwal ulangan.” tambah Bobi.
“Trus.., apa yang mendorongmu untuk contekan tadi? Bapak benar-benar kecewa sekali. Kamu adalah siswa unggulan di sekolah ini. Sudah empat semester ini kamu selalu meraih peringkat pertama. Kamu adalah contoh buat teman-temanmu.” Ujar Pak Tikno mengingatkan.  
Bobi menjawab dengan nada menyesal. “Iya..saya mengerti, pak. Maafkan saya. Saya tidak akan mengulanginya lagi. Sebenarnya sudah beberapa hari ini waktu belajar saya berkurang. Badan jadi mudah capek. Hal itu terjadi karena saya tidak pernah langsung pulang ke rumah ketika jam pelajaran usai.”
” Lantas, ke mana saja kamu? Kenapa tidak langsung pulang?! ujar Pak Tikno dengan nada tinggi.
“Maaf, Pak. Sepulang sekolah saya mampir ke rumah Joni. Di sana saya membantu Joni mengepak tempe yang sudah siap jual. Lalu sore harinya saya menemaninya berjualan tempe keliling kampung.“ jawab Bobi.
“Trus, apa orang tuamu tahu tentang hal ini? Tidakkah perbuatanmu itu malah mengganggu pelajaranmu?! Kalau orang tuamu tahu, mereka pasti melarangmu. Karena berjualan akan mengganggu kegiatan belajarmu. Apalagi kamu masih terlalu kecil untuk melakukannya. Tugasmu hanyalah belajar dan sekolah. Kamu mengerti kan, Bob?! terang Pak Tikno.
Sejenak suasana menjadi hening dan sunyi. Mulut Bobi terasa terkunci. Lidahnya kelu. Ia tidak bisa berkata-kata lagi. Tidak terasa air matanya menetes ke celah-celah baju seragam batiknya. Sesekali ia mengusap air matanya yang makin tumpah ruah itu. Untuk kedua kalinya Pak Tikno menghela napas panjang, beliau mengusap rambut Bobi dan berusaha menenangkannya. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu di ruang guru itu. Tok...tok..tok... Ternyata dari balik pintu muncullah Joni dengan wajah sedikit malu dan penuh penyesalan.
“Maaf... permisi, Pak! Bolehkah saya berterus terang, Pak. Saya akan menceritakan kejadian yang sebenarnya.” pinta Joni kepada Pak Tikno.  
Meski agak sedikit bingung, Pak Tikno akhirnya mengijinkan Joni berbicara. Joni mulai menjelaskan, “Sebenarnya Bobi tidak bersalah pak. Saya yang salah. Kemarin saya kecapekan dan tidak sempat belajar Matematika. Jadi, ketika ulangan, jawaban saya banyak yang salah. Melihat hal itu, lima menit kemudian tiba-tiba Bobi merebut kertas ulangan saya. Kemudian ia menghapus nama saya dan menggantinya dengan menuliskan namanya pada kertas ulangan saya. Sebaliknya, kertas ulangan milik Bobi sudah berubah nama menjadi nama saya, Joni.”
“Maksudmu...Bobi sengaja menukar kertas ulangannya denganmu?” tanya Pak Tikno.
Iya, Pak. Bobi melakukannya demi menolong saya, agar nilai ulangan saya bagus sehingga nilai rapor saya memuaskan. Maafkan kami, kami berdua memang salah pak. Tapi, jujur saja saja Bobi sudah banyak membantu saya belajar selama ini. Nilai saya juga naik sedikit demi sedikit. Bobi baik dan pintar. Saya senang bersahabat dengannya.” jawab Joni.
Pak Tikno berpikir sejenak. Tak berapa lama kepalanya mengangguk-angguk. Beliau tersenyum, seraya berpesan kepada Bobi dan Joni, “Bob, bapak bangga kepadamu, kamu masih peduli terhadap masalah Joni, meski caramu kurang tepat tadi, karena itu jangan mengulanginya lagi. Terus ajari dan bantu Joni belajar. Dan kamu Joni, lebih giatlah belajar. Moga kalian berdua lulus SD tahun ini dengan nilai yang memuaskan.” Pak Tikno lalu memeluk kedua siswanya tersebut dengan penuh kasih sayang dan rasa haru.
***
Demikian contoh cerpen terbaru yang saya tulis dalam rangka mengikuti lomba penulisan cerpen anak. Semoga bermanfaat. :-)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment