Cerita Pendek untuk Anak Tingkat SD - Sastra atau kesusastraan merupakan hasil karya manusia
yang menggunakan bahasa sebagai alat atau media pencurahan, baik berbentuk
lisan maupun tertulis, yang mampu menyentuh jiwa pembaca atau pendengarnya
karena bernilai estetis atau indah. Cerpen merupakan cerita pendek yang peristiwanya
terjadi pada suatu waktu dan para tokohnya tidak mengalami perubahan waktu. Berikut ini saya berikan contoh cerpen anak yang menarik dan banyak pesan moral di dalamnya. Silahkan menyimak!
Mendadak
Contekan
Oleh:
Dyna Parastiningsih, S.S.
Wajah Bobi tampak memerah menahan malu
ketika kertas ulangannya dirampas oleh Pak Tikno. Semua itu terjadi bukan tanpa
alasan. Pak Tikno memergoki Bobi dan Joni sedang contekan di kelas. Berbeda
dengan Bobi, senyum Joni malah makin lebar ketika Pak Tikno menjewer kedua
telinganya. Maklumlah, Joni memang sudah terlalu sering mencontek di kelas itu.
Ia tak pernah jera mengulangi perbuatannya meski bermacam-macam hukuman kerap
dijalaninya.
“Huh...dasar tukang nyontek, nggak
kapok-kapoknya dihukum. Udah kelas enam SD masih aja contekan.” ujar Aan, ketua
kelas yang super disiplin itu.
“Iya, nggak tau malu, rasain kena hukuman
lagi.” balas Tono, teman sebangku Aan.
“Tapi Ton.., tumben banget si Bobi
mencontek, padahal ia kan jawaranya kelas ini? Aku saja tak pernah bisa
menyamai nilai-nilainya. Padahal aku sudah susah payah belajar. Tiap minggu aku
juga ikut bimbel. Tapi hasilnya gak ada. Sebal banget aku jadinya.” keluh Aan.
Iya juga sih...memang aneh banget si
Bobi. Pintar kok nyontek, nggak malu apa?! ujar Tono mendukung pendapat Aan.
Bel sekolah pun berbunyi. Jam
istirahat dimulai. Bobi harus menghadap Pak Tikno di ruang guru untuk
mempertanggungjawabkan perbuatannya tadi. Sesampainya di ruang guru, ia duduk
menghadap Pak Tikno. Wajahnya tertunduk. Matanya mulai berkaca-kaca. Tangannya
gemetar dan menjadi dingin.
Pak Tikno
mulai memeriksa kertas ulangan milik Bobi. Beliau menarik napas panjang.
Sesekali menggeleng-gelengkan kepala. “Bobi...Bobi...contekan kok jawabannya banyak
yang ngawur gini! Padahal ini kan soal pilihan ganda semua. Memangnya kamu
tidak belajar kemarin? tanya Pak Tikno tegas.
“A...aanu..maaf
pak, maafkan saya. Saya sudah belajar, tapi cuma sebentar. Tadi malam saya ketiduran.“
jawab Bobi.
“Kok bisa,
Bob? Hmm..saya jadi heran, lagi pula tidak biasanya kamu melakukan kecurangan
ketika ulangan. Ataukah kamu lupa kalau hari ini ada ulangan sehingga tidak
sempat belajar?” ujar Pak Tikno penasaran.
“Ti..tidak..pak. Saya selalu ingat
jadwal pelajaran, apalagi jadwal ulangan.” tambah Bobi.
“Trus.., apa yang mendorongmu untuk
contekan tadi? Bapak benar-benar kecewa sekali. Kamu adalah siswa unggulan di
sekolah ini. Sudah empat semester ini kamu selalu meraih peringkat pertama.
Kamu adalah contoh buat teman-temanmu.” Ujar Pak Tikno mengingatkan.
Bobi menjawab dengan nada menyesal. “Iya..saya
mengerti, pak. Maafkan saya. Saya tidak akan mengulanginya lagi. Sebenarnya
sudah beberapa hari ini waktu belajar saya berkurang. Badan jadi mudah capek. Hal
itu terjadi karena saya tidak pernah langsung pulang ke rumah ketika jam
pelajaran usai.”
” Lantas, ke mana saja kamu? Kenapa
tidak langsung pulang?! ujar Pak Tikno dengan nada tinggi.
“Maaf, Pak. Sepulang sekolah saya
mampir ke rumah Joni. Di sana saya membantu Joni mengepak tempe yang sudah siap
jual. Lalu sore harinya saya menemaninya berjualan tempe keliling kampung.“
jawab Bobi.
“Trus, apa orang tuamu tahu tentang
hal ini? Tidakkah perbuatanmu itu malah mengganggu pelajaranmu?! Kalau orang
tuamu tahu, mereka pasti melarangmu. Karena berjualan akan mengganggu kegiatan
belajarmu. Apalagi kamu masih terlalu kecil untuk melakukannya. Tugasmu
hanyalah belajar dan sekolah. Kamu mengerti kan, Bob?! terang Pak Tikno.
Sejenak suasana menjadi hening dan
sunyi. Mulut Bobi terasa terkunci. Lidahnya kelu. Ia tidak bisa berkata-kata
lagi. Tidak terasa air matanya menetes ke celah-celah baju seragam batiknya.
Sesekali ia mengusap air matanya yang makin tumpah ruah itu. Untuk kedua
kalinya Pak Tikno menghela napas panjang, beliau mengusap rambut Bobi dan
berusaha menenangkannya. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu di ruang guru
itu. Tok...tok..tok... Ternyata dari
balik pintu muncullah Joni dengan wajah sedikit malu dan penuh penyesalan.
“Maaf... permisi, Pak! Bolehkah saya berterus
terang, Pak. Saya akan menceritakan kejadian yang sebenarnya.” pinta Joni
kepada Pak Tikno.
Meski agak sedikit bingung, Pak Tikno
akhirnya mengijinkan Joni berbicara. Joni mulai menjelaskan, “Sebenarnya Bobi
tidak bersalah pak. Saya yang salah. Kemarin saya kecapekan dan tidak sempat
belajar Matematika. Jadi, ketika ulangan, jawaban saya banyak yang salah. Melihat
hal itu, lima menit kemudian tiba-tiba Bobi merebut kertas ulangan saya.
Kemudian ia menghapus nama saya dan menggantinya dengan menuliskan namanya pada
kertas ulangan saya. Sebaliknya, kertas ulangan milik Bobi sudah berubah nama
menjadi nama saya, Joni.”
“Maksudmu...Bobi sengaja menukar
kertas ulangannya denganmu?” tanya Pak Tikno.
Iya, Pak. Bobi melakukannya demi
menolong saya, agar nilai ulangan saya bagus sehingga nilai rapor saya
memuaskan. Maafkan kami, kami berdua memang salah pak. Tapi, jujur saja saja
Bobi sudah banyak membantu saya belajar selama ini. Nilai saya juga naik
sedikit demi sedikit. Bobi baik dan pintar. Saya senang bersahabat dengannya.”
jawab Joni.
Pak Tikno berpikir sejenak. Tak berapa
lama kepalanya mengangguk-angguk. Beliau tersenyum, seraya berpesan kepada Bobi
dan Joni, “Bob, bapak bangga kepadamu, kamu masih peduli terhadap masalah Joni,
meski caramu kurang tepat tadi, karena itu jangan mengulanginya lagi. Terus
ajari dan bantu Joni belajar. Dan kamu Joni, lebih giatlah belajar. Moga kalian
berdua lulus SD tahun ini dengan nilai yang memuaskan.” Pak Tikno lalu memeluk
kedua siswanya tersebut dengan penuh kasih sayang dan rasa haru.
***
Demikian contoh cerpen terbaru yang saya tulis dalam rangka mengikuti lomba penulisan cerpen anak. Semoga bermanfaat. :-)







0 comments:
Post a Comment