Naskah Drama Batu Belah Batu Betangkup - Assalamu 'Alaikum wr.wb.
Selamat pagi para sohib guru dan adik-adik pelajar semua. Drama merupakan karya
sastra yang menyenangkan dan menarik karena sarat akan nilai moral di dalamnya.
Drama juga merupakan refleksi permasalahan dalam kehidupan sehari-hari di
sekitar kita. Berikut ini saya akan share naskah drama 6 orang (naskah
drama untuk enam tokoh) yang bersumber dari dongeng ‘Batu Belah Batu
Betangkup’. Silahkan menyimak ya!
Judul Drama: Batu Belah Batu Betangkup
Para Pemain:
1. Narator : Bidari
2. Utuh : Fajar
3. Ucin : Tamzila
4. Diang / Anak Tetangga : Dila
5. Mak Tua : Widianita
6. Tetangga/ Uni Rosna : Arin
“Batu Batangkup”
Alkisah
pada zaman dahulu di suatu dusun di Tanah Gayo hiduplah seorang janda tua yang
sangat miskin bersama kedua orang anaknya, Utuh
dan Ucin. Anak-anaknya yang nakal selalu membuat Mak Tua bersedih, terlebih
karena hidup mereka serba kekurangan.
Anak Tetangga: Utuh..Ucin..aku punya mainan baru lagi...liat
bagus kan..
Utuh dan Ucin: wah...bagus sekali mainanmu...yuk kita main.
Diang.....ayo pulang dulu, sudah sore.
Anak Tetangga : Aduh emak ak udah manggil2..aku pulang dulu
ya
Utuh dab Ucin: Tapi Diang kita kan baru mulai. Huh..Diang
nyebelin banget.
Kemudian masuklah mak Tua membawa belanjaan dari pasar
kampung sebelah. Ia terlihat sangat kelelahan. Namun anak-anaknya tak
memperdulikan hal itu, mereka malah merengek minta dibelikan baju oleh maknya.
Utuh
: Mak, aku ingin mainan seperti punya Diang!
Ucin
: Iya aku mau baju baru seperti yang lain mak!
Mak : Nak, sebetulnya Mak juga ingin
membeli semua yang kalian minta itu. Tapi apa daya Mak tidak punya uang nak!
Sabarlah ya nak.
Utuh : Ah, Mak memang pelit sekali
terhadap anak sendiri?
Ucin
: Ya! Mak tidak becus dalam bekerja,buktinya hidup
kita melarat terus! (sambil mendorong mak
Tua)
Mak
: Apa nak? Kasar nian engkau pada Mak?
Ucin
: Kami tidak perduli Mak!Ayo bang kita pergi main.
Mak : Ya allah, apa salahku hingga
anak-anakku jadi begini? Mereka selalu menyakiti hatiku, padahal aku sangat
menyayangi mereka.
Setelah
puas menyakiti hati emaknya, kedua anak itu bermain di ladang tetangganya.
Mereka merusak tanaman yang ada di sana dan mencuri buah-buahan yang ada. Tak
berapa lama sang pemilik mengetahui hal itu, ia pun langsung melabrak Mak Tuh.
Ucin
: hmmm...wangi sekali buah mangga ini ya bang?
Utuh
: siiip dech...besok kita ambil lagi ya yang banyak.
Tetangga:
Mak Tua...kemari kau...dimana anak-anakmu yang nakal itu? Kamu
sembunyikan ya mereka?
Mak
Tua : Ada apa Uni, apa yang telah mereka lakukan?
Tetangga:
Jangan pura-pura kamu. Kamu tidak bisa ya mendidik mereka. Tanamanku rusak
semua. Mereka juga telah mencuri buah-buahan milikku.
Mak
Tua: Utuh..Ucin kemari nak. Apa benar yang dikatakan Uni Rosnah?
Utuh:
Tidak mak,itu tidak benar.
Ucin:
Iya...buat apa kami mencurinya.
Tetangga:
Ha..lah..Dasar pembohong. Sudah miskin, pencuri pula!
Mak
Tua: Uni...Jangan menuduh anak2ku seperti itu. Biar miskin, haram bagi kami
mengambil milik orang lain.
Tetangga:
Ah sudahlah. Kalian memang sekongkol.
Mak
Tua: Ya Allah..cobaan apa lagi ini. Tabahkanlah hati hamba menghadapi semua
ini.
Hati
Mak Tua makin pedih mendengar hinaan tetangganya, bagaimanapun anak2nya memang
sangat keterlaluan, tapi Mak Tua masih mencoba untuk menahan amarahnya.
Keesokan harinya mak Minah pulang membawa beberapa ekor ikan yang sangat besar.
Ia lalu memasak dan menghidangkan ikan-ikan tersebut untuk anak-anaknya.
Mak
Tua: Sayang ayo sini...sudah lama kita tidak makan ikan lezat ini. Makanlah
dahulu, emak mau ke kampung sebelah sebentar, jangan lupa sisakan sedikit buat
emak, karena emak belum makan sama sekali.
Utuh
dan Ucin: iya mak beres.
Ucin:...wah
lezat sekali ya masakan emak...hemmhem...nyam-nyam..kita habiskan aja ya..
Utuh:
oke deh siip, peduli amat dengan emak, yang penting kenyaaaang...hehe..
Sorenya
Mak Tua pulang. Karena belum makan seharian, perutnya terasa lapar sekali
sehingga ia bergegas menuju meja makan. Tapi ia sangat terkejut melihat semua
ikan-ikan yang ada hanya tinggal tulang-belulangnya saja. Ia sangat sedih dan
kecewa. Amarahnya jadi memuncak.
Mak Tua: Mana ikan-ikan yang kumasak tadi? Masa hanya tulang-belulangnya yang tersisa. Mereka sungguh keterlaluan. Sudah habis rasanya kesabaranku.
Tanpa
berkata-kata apapun, mak tua pergi meninggalkan rumah. Dengan perasaan sedih,
ia berjalan menuju ke sebuah bukit. Sesampai di puncak bukit itu, ia lalu
mendekati sebuah batu besar, orang-orang menyebutnya batu batangkup. Di hadapan
batu itu, mak tua duduk bersimpuh sambil meneteskan air mata.
Mak
Tua: Wahai, batu batangkup. Telanlah aku! Tidak ada lagi gunanya aku hidup di
dunia ini. Kedua anakku tidak mau mendengar nasehatku lagi.
Sementara
itu, kedua anaknya dengan gelisah mencari mak tua. Mereka sangat menyesal
begitu tahu bahwa ibunya sudah ditelan batu batangkup.
Ucin:
Emak....maafkan kami...kami memang salah.
Utuh
: Iya...kami sangat menyesal maaaak.
***
Demikian naskah drama terbaru
'Batu Belah Batu Betangkup' yang saya buat untuk para siswa dalam rangka
mengikuti lomba drama. Semoga bermanfaat ya..Jangan lupa ikuti terus perkembangan karya
sastra pada blog kami ya dan jadi pengikut setia kami. Thanks 4 atensinya..
Wassalamu Alaikum wr.wb






3 comments:
izin copas boleh ya?
How to use a Betway login for Betway casino account
To start the Betway login process, 창원 출장마사지 simply enter the username, password 울산광역 출장마사지 and a few quick steps. Then the user will 상주 출장안마 need to 동두천 출장안마 make an account on Betway and 군산 출장샵 then select
official site vibrators,realistic dildo,wholesale sex toys,sex chair,cheap sex toys,realistic dildo,vibrators,wolf dildo,horse dildo visit here
Post a Comment